
Masalah bola itu di Indonesia terus terjadi, menurut Toni karena adanya bonek yang belum diberikan pendidikan tentang Hak Asasi Manusia. Dari sudut pandang akademik, pemahaman yang minus terkait dengan bola akan membuat penggila bola menjadi kian jauh dari nilai-nilai Pancasila dan UUD 1945 dan GBHN. Maka, Toni sudah bilang ke Papi Clinton untuk secara konsisten dan sustainable mengajak presiden Republik INA, agar bisa memberikan Pedoman Penghayatan dan Pengamalan Pancasila kepada calon penonton bola.
Sambil makan bakso di Manhattan, kita ngobrol panjang dengan diameter tiga puluh, maksudnya 30 menit.
Papi Clinton waktu itu mengenakan sarung juga seperti Toni, dengan corak kotak-kotak. Itu sengaja kami lakukan untuk menciptakan harmoni Yin dan Yang untuk kestabilan keamanan di Timur Tengah.
"Ton, sampeyan tahu sejak kapan bola ada? Bagaimana sejarahnya? Papi pengen tahu wawasan sampeyan selama berada di Indonesia dari sejak kecil."
"Lha, aku pasti tahu Papi. Karena bola kaki itu memiliki hubungan atau jaringan kabel dengan fisika. Nah, dalam fisika ada sejarah. Dari sejarah PKI sampai dengan sejarah reformasi. Sejarah yang pernah membuat Papi kemarin cerita ke Pakdhe Steven Spielberg kalau Toni merupakan Pahlawan Reformasi."
"Sedikit ora mudeng aku Ton," sela Papi Clinton.
Ternyata Papi Clinton sesekali juga nge-blank, sama sepertiku. Makanya kalian jangan terlalu percaya kalau ada yang menyebut bahwa orang Amerika pada semuanya bisa berpikir besar, berjiwa besar seperti yang diajarkan Pancasila yang tidak pernah meleset dari kaidah-kaidah ilmiah.
"Dalam berbagai buku yang ditulis oleh Adam Smith tentang persoalan ekonomi bola, dijelaskan bahwa sejarah dan bola itu sudah ada dari sejak jaman Nabi Adam..."
"Bisa sampeyan jelaskan secara lebih radikal, Ton?" Dia ternyata masih nge-blank, saudara-saudara.
"Maksude gini lho Papi. Kebanyakan yang minati bola itu kan kaum kita laki-laki. Dan itu terinspirasi oleh sesuatu yang sangat akrab dengan kaki kita. Dalam ilmu biologi disebutkan secara detail bahwa laki-laki memiliki itu..."
"Apa itu, Ton?"
"Disebut dengan testis. Karena ini kaitannya dengan biologi dan Papi adalah seorang politikus, mungkin agak sulit memahami. Maksudku, ada dua bola yang berdekatan dengan paha kiri dan kanan kita yang sebenarnya ia berbentuk bulet."
"Kaitane opo toh, Ton?"
"Lha, ini maksude, cuma yang bulet yang bisa bergulir, bisa ngegelinding. Nah kalau ia terbungkus, maka ia gak bisa menggelinding secara natural Pap."
"Baik, walaupun Papi ora terlalu mudeng, ada pertanyaan lebih lanjut. Kalau kamu diminta jadi pelatih bola di Indonesia, karena kamu paham sejarah bola. Terus, apa yang menjadi visi misimu."
"Ada sebuah manuver besar yang ingin Toni lakukan untuk majukan bola di Indonesia. Pertama, secara legislatif, Toni akan kampanyekan lewat Partai Golkar, PDI, PKS, PPP, dan Partai Demokrat untuk kembali ingat pada pengaruh biologi pada testis. Maka, Toni akan lakukan reshuffle kabinet. Artinya, semua pemain bola tidak boleh laki-laki, tapi harus perempuan semua. Mereka harus berpakaian senatural mungkin saat hadapi lawan. Sampai lawan tidak bisa berlari karena mereka paham kalau bola lawannya lebih kecil."
&*(&()*)*^^&(@$^$
Post a Comment