
Hari itu di Manhattan, deket Detroit lagi panas-panasnya. Jadi kangen Jogja waktu itu. Toni lagi jalan kaki lengkap dengan sarung keliling-keliling. Nyari delman gak nemu-nemu, ya akhirnya weslah, Toni konsisten, memelihara konsistensi untuk hanya jalan kaki saja sampai ke Monas yang ada di Detroit. Bosen di sana, Toni segera pergi nyari tukang ojek biar gak kecapean. Nemu tukang ojeknya persis setelah sampai Chicago. Dari sana kita jalan-jalan ke Niagara.
Lagi seru jalan-jalan, Toni agak kurang konsentrasi karena angin mulai ngebandel nyingkap-nyingkap sarung Toni segala. Entah dia gak tahu, sarung Toni menyimpan harta pusaka yang sangat Toni jaga sekali. Untuk menjaga itu Toni rela berjuang sampai darah penghabisan. Ada buktinya lho, waktu Toni sunatan memang sampe berdarah-darah.
Tiba-tiba Papi Clinton nelpon. Katanya ada menteri dan anggota DPR dari Indonesia dateng ke amrik. Mereka kesulitan nyari warteg yang nyediain jengkol dan nasi uduk. Ya sudah, akhirnya Toni pulang jalan kaki lagi. Wong ongkos ojek udah abis. Jadi, lagi-lagi harus milih jalan kaki wae. Yang penting hepi dan tetep ilmiah, toh. Apalagi jalan kaki itu bisa mencegah impotensi dan membantu pikiran tetep waras.
Sesampai di White House, Toni rapikan sarung yang tadi sempet acak-acakan dikit. Kebetulan hansip yang berjaga di sana iku yo cewek lho. Karena pikiran logis Einstein yang Toni miliki menganalisis dengan mempergunakan pola ekonomi mikro, Toni tahu hansip cewek itu pasti punya parfum. Yo wes, Toni pinjem saja.
"Iku, parfume wangi yo mbak?"
"Ya iyalah mas, mosok ono parfum yang gak wangi."
"Oh, iya Toni sesekali mengalami dehidrasi ingatan sih mbak. Anyway, iki made in mana yo mbak?"
"Uhm, oh itu warisan nenek moyang, Mas. Langsung aku pesen dari simbokku di Madura. Meski dia bukan asli Madura, masih kental darah hitam dan haemogolobin-nya, tapi dia tahu nilai-nilai tradisional yang ada di Madura. Salah satunya, yo iki, parfum made in Madura." cerita si cewek berapi-api.
Cantik juga cewek itu, tapi heran juga kenapa dia ikut-ikutan aku yang kalo ngomong medhok gini ya. Kali ini yang disebut dengan chemistry, yo?
Sampe di dalem, sebenarnya sudah terhidang makanan yang buanyak banget, sumpah lho. Ada spaghetti campur oncom, sate madura dan lain sebagainya. Tapi, anggota DPR yang dateng itu kok kelewatan ya, mbok bukannya makan yang disajikan malah mesen yang dari warteg. Tetapi jiwa nasionalis Toni dengan sigap dalam kecepatan sekian Mhz menganalisis, ini cermin jiwa nasionalisme anggota DPR. Toni bangga.
"Kamu tanyain mereka Ton, mau ke mana saja dan mau mesen apa saja, ntar kamu anterin yo?"
Papi Clinton cuma mesen gitu doang. Selanjutnya beliau melengos ke dalem, katanya mau kerokan.
Akhirnya aku ketemu dengan tamu dari negeriku itu. Mereka terlihat berwibawa. Beberapa dari mereka memiliki kumis yang sedikit bersaing dengan kumisnya Toni.
Dari Toni langsung saja Toni sapa, saat mereka lagi asyik mandangin gambar mbah buyutku, George Washington.
"Assalaamualaikum warahmatullaahi wabarokatuh!" sapaku ke mereka setelah menyetel suara dengan volume setara dengan mikrofon di musollah kampungku dulu.
Mereka gak menjawab, malah dibales;"Good afternoon, Mr Toni. How are you? Glad to meet us here? Is't a surprise to you, is it?" Nyerocos salah satu dari mereka yang memiliki kepala licin mirip kuali di warteg Mpok Sari di Sleman.
"Iku maksude, opo yo?" Tanyaku.
Segera, si kepala kuali itu mendekatiku.
"It's amazing, guy. You're really makes me sad. Wong kalo sudah di sini iku, sampeyan kudu bisa bahasa Inggris, lho. Jangan malu-maluin bangsa sendiri yang sudah terkenal dari sejak dulu kala sebagai penerus Majapahit. Penerus Sriwijaya. Penerus nama besar orang nusantara. Maka dari itu, kita harus mengingat, menimbang dan memutuskan untuk memakai bahasa apa saja yang dijunjung oleh penduduk di setiap negara yang kita kunjungi. Anyway, Datuk Clinton ngomong dengan sampeyan make boso opo yo?"
Aku nyengir dikit membuka tanggapan.
"Lha Papi Clinton kalo ngomong karo aku itu lebih sering make boso Jowo,kok" lengkap dengan masang wajah berwibawa kaya Papi juga.
***
Setelah muter-muter dengan mereka yang katanya mau cari warteg yang ada ngejual jengkol deket White House. Aku sudah kecapean. Mana tadi siang sudah jalan kaki jauh. Ini ngajak jalan kaki juga lagi. Dongkol juga aku. Beberapa rumah makan yang kukira selevel untuk mereka yang anggota dewan yang konon senang kemewahan, semua pada nolak. Apa bener mereka sudah sadar untuk gak ngehamburin uang negara, yo? Ora mudeng aku. Mending nanya tegas aja. "Bapak-bapak anggota dewan yang mulia, yang saya hormati. Dalam ilmu pengetahuan modern yang saya pelajari di kampus bersama rumus-rumus fisika dan kiwia yang kontemporer. Di sana disebutkan, waktu adalah uang. Jadi, jangan habiskan waktu saya. Ayo sebenarnya pengen nyari apa, kok dari tadi kita cuma muter-muter doang?"
Wajah mereka sedikit mesem-mesem dan malu-malu. Mungkin mereka segan juga karena aku anaknya Papi Clinton, meski lama di Indonesia dari sejak lahir.
Si kepala kuali lagi yang ngedeketin aku."Kiye Ton, Sarkem di sini ono ora yo?"
$@*%$#^*#
*Iki maksude mimpi basah, ya kecapean keringetan nemenin anggota dewan iku, saudara-saudara
Post a Comment