
Saat itu Toni lagi cari WC umum deket pasar rakyat di Los Angeles. Kebetulan ketemu Papi Clinton yang sudah lama aku cari-cari. Beliau lagi makan di warteg di sono. Aku diajakin makan sekalian. Jadinya makan sambil nahan kebelet. Aku kira ini yang disebut seni. Artinya ada semacam senyawa fisika seni antara ikut makan dengan seni menahan kebelet. Dalam praktik ilmiahnya, seni ini hanya bisa dilakukan oleh orang-orang yang memiliki intuisi dan kecerdasan lebih seperti halnya Toni.
"Gimana keadaan simbok di kampung, Ton? Beliau sehat-sehat sajakah?"
"Yes, Papi Clinton, She fine-fine saja kok. Sehat jiwa dan raga. Beliau masih bisa hafal lagu Indonesia Raya, Padamu Negeri dan juga Balonku Ada Lima."
"Lho, simbokmu hafal lagu Balonku Ada Lima juga?"
"Iya, kenapa Papi?"
"Ora opo-opo sih. Sing penting dia sehat badan, sehat pikiran..."
"Iya, beliau sama seperti Toni dong, Papi. Pikiran dan badan selalu sehat wal afiat. Tidak kurang suatu apa pun."
"Tapi..." Papi Clinton terlihat mengusap keningnya.
"Tapi kenapa, Papi?"
"Begini lho, simbokmu kan iku wes 70 toh?"
"....72, kenapa emange, Pap?"
"Lha, seusia iku, kok masih akrab dengan balon yo? Kan, harusnya secara saintifik mekanis pulsa elektrik, perempuan iku usia 40-an sudah menopause, lho" herannya.
"Aku kira gak gitu, Papi. Sekarang dunia sudah berubah. Tidak lagi kayak jaman PKI dulu yang menopause. Menurut penelitianku, iku yo, perempuan menopause karena adanya kekurangan sembako. Coba deh tanyain Mami Hillary. Mbok ya, realitas demokrasi memang menuntut seperti itu. Dan ini juga dibenarkan oleh teori-teori psikodinamika atau psikopat dan aerodinamika yang diajarkan Pak Beje Habibi."
"Aku ora mudeng maksudmu, Ton"
..........
"Maksude.....aku dari tadi nahan kebelet, Pap!"
Akhirnya aku lega bisa terus terang, dan...segera lari ke kali kecil belakang warteg yang bersisian dengan Capitol Hill. Inilah yang kusebut dengan istilah ilmiah kedokteran sebagai Hepatitis non Kimia Elektrik.
Post a Comment