[starttext]
Hari ini aku dapet onthel. Warisan pakdhe Ronald Reagen. Bagi njenengan yang gak familiar dengan beliau bisa saya jelaskan secara detail, rinci dan terperinci sampai ke setiap inci. Beliau itu pernah jadi bupati di Las Vegas. Terus kemudian turun pangkat sebentar jadi camat. Kalau saja pakdhe masih hidup, aku direncanakan jadi lurah. Sayangnya, pakdheku itu wes balik nengkono, ke haribaan Tuhan. Itu terjadi persis ketika aku sibuk dengan studi di laboratorium.
Meski teringat pakdhe. Aku tetep ngegowes bareng Suleman keliling Amrik. Bodohnya orang Amrik iku yo, nyari tempat tambal aja sulitnya minta ampun dah. Harusnya ilmuwan itu dihormati. Alih-alih mereka sungkem ke aku, malah jadinya aku dengan Suleman gantian mikul onthel itu di punggung sambil keliling Amerika. Iki kejadian waktu tiba-tiba ban onthel kempes. Sudah kucoba tiup-tiup di pentilnya, tidak bisa juga.
Oya, waktu itu sebenarnya aku memang belum jumpa dengan Papi Clinton. Wong kita sambil nyari papi tetep bisa berekreasi. Ini yang kusebut sebagai kreatifitas orang-orang ilmiah. Sambil mencari orang namun tetap bisa berkreasi.
Kita terkagum-kagum dengan Holywood. Iku lho, tempat Amitab Bachan, Pretty Zinta dan Amir Khan main film.
[postlink]
https://separatosclan.blogspot.com/2011/07/gowes-ilmuwan-on-chicago.html[/postlink]

Hari ini aku dapet onthel. Warisan pakdhe Ronald Reagen. Bagi njenengan yang gak familiar dengan beliau bisa saya jelaskan secara detail, rinci dan terperinci sampai ke setiap inci. Beliau itu pernah jadi bupati di Las Vegas. Terus kemudian turun pangkat sebentar jadi camat. Kalau saja pakdhe masih hidup, aku direncanakan jadi lurah. Sayangnya, pakdheku itu wes balik nengkono, ke haribaan Tuhan. Itu terjadi persis ketika aku sibuk dengan studi di laboratorium.
Meski teringat pakdhe. Aku tetep ngegowes bareng Suleman keliling Amrik. Bodohnya orang Amrik iku yo, nyari tempat tambal aja sulitnya minta ampun dah. Harusnya ilmuwan itu dihormati. Alih-alih mereka sungkem ke aku, malah jadinya aku dengan Suleman gantian mikul onthel itu di punggung sambil keliling Amerika. Iki kejadian waktu tiba-tiba ban onthel kempes. Sudah kucoba tiup-tiup di pentilnya, tidak bisa juga.
Oya, waktu itu sebenarnya aku memang belum jumpa dengan Papi Clinton. Wong kita sambil nyari papi tetep bisa berekreasi. Ini yang kusebut sebagai kreatifitas orang-orang ilmiah. Sambil mencari orang namun tetap bisa berkreasi.
Kita terkagum-kagum dengan Holywood. Iku lho, tempat Amitab Bachan, Pretty Zinta dan Amir Khan main film.
***
"Suleman, saiki ora ada Monas yo?" Tanyaku ke Suleman.
"Lha, Monas itu ada di semua negara. Karena di setiap negara itu, Monas itu lambang presidennya masih normal atau sudah impoten." Jawab Suleman sambil betulkan letak rambut yang dibelah tengah dan licin itu. Karena dia pake minyak rambut urang-aring.
"Kita coba bahas ini dari sudut pandang meteorologi dan geofisika. Bahwa, setiap gejala impotensi itu bisa dipahami cuma oleh istri presiden. Bukan oleh siapa-siapa. Jadi, melihat lagi dari perspektif hukum yang higienis, iku yo, bisa ngarah ke fitnah kalo sampeyan nyerempet-nyerempet soal impotensi." Sungutku, sedikit berang. Harusnya, walaupun belum mulai kuliah di sini, aroma Amerika saja sudah bisa bikin dia ilmiah, dong. Ya ora, dulurku?
"Nggih, Ton. Lha, kamu sendiri jangan-jangan sudah impoten karena belum pernah lihat Monas, gak?"
"Uenak aja. Sembarangan sampeyan.Wong aku setiap pagi selalu bisa pipis kok."
Selanjutnya tidak ada topik serius yang bisa kubahas dengan Suleman. Abis, onthel warisan pakdhe yang kami pikul bergantian beneran melelahkan. Sumpah.[endtext]
http://www.youtube.com/watch?v=1yW2OBMvB8Aendofvid
http://www.youtube.com/watch?v=1yW2OBMvB8Aendofvid
Post a Comment